Tim gabungan terus meningkatkan kesiapsiagaan selama proses pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali. Aparat memperkirakan masih ada potensi jenazah muncul ke permukaan seiring berlangsungnya kegiatan pengangkatan.
Pasalnya, pada Minggu (1 Februari 2026), tim menemukan dua jenazah usai pengangkatan kendaraan truk dan bangkai KMP Tunu dari dasar laut menggunakan tongkang bercakar Pioner 88. Seluruh kondisi komponen kapal dan kendaraan yang terangkat sudah dalam keadaan tidak utuh.
Kasatpolairud Polresta Banyuwangi, Kompol Muchammad Wahyudi, mengatakan prosedur penanganan jenazah akan dilakukan sama seperti sebelumnya, namun dengan mobilitas personel yang lebih tinggi.
Setidaknya, personel Polairud disiagakan di sejumlah titik strategis. Koordinasi dilakukan secara cepat melalui komunikasi langsung dengan pengawas di lapangan begitu ada indikasi objek mencurigakan di perairan.
“Kami standby-kan anggota. Begitu terlihat, langsung koordinasi dan bergerak cepat,” jelasnya.

Untuk mendukung percepatan evakuasi, tim gabungan juga telah menyiapkan perlengkapan, termasuk kantong jenazah. Dukungan datang dari Basarnas, KSOP, TNI Angkatan Laut, hingga Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP).
Wahyudi menyebut kondisi perairan di Selat Bali memungkinkan jenazah keluar dari radius lokasi bangkai kapal. Berdasarkan uji sederhana yang dilakukan, arus laut di kawasan tersebut cukup kuat dan dalam.
“Potensi itu ada. Arus bisa membawa objek cukup jauh. Karena itu patroli kami perluas,” katanya.
Perluasan patroli melibatkan unsur Polairud Banyuwangi hingga personel gabungan yang ada. Upaya ini dilakukan untuk memperluas jangkauan pengawasan perairan selama proses berlangsung.
Sementara itu, Kepala Kantor SAR (Kakansar) Banyuwangi, I Made Oka Astawa, menyampaikan Basarnas terlibat aktif dalam kegiatan operasi yang dilakukan secara terpadu dengan seluruh pemangku kepentingan di lintasan Ketapang-Gilimanuk.

Ia menjelaskan, dalam proses pengangkatan bangkai kapal terdapat kemungkinan korban berada di dalam kendaraan, bangkai kapal, maupun ruang mesin yang tengah diangkat.
“Karena itu kami membantu pemantauan dan menyebarkan informasi ke seluruh stakeholder di Selat Bali, termasuk nelayan, agar segera melapor jika menemukan target atau korban,” kata Oka.
Sekadar mengingatkan kembali, KMP Turu Pratama Jaya tenggelam di perairan Selat Bali pada 2 Juli 2025 malam. Kapal tenggelam saat dalam perjalanan dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali.
Kapal milik perusahaan perkapalan PT Raputra Jaya itu memuat 84 orang dalam perjalanan saat tenggelam, termasuk di dalamnya adalah kru kapal.
Dari jumlah tersebut, 30 penumpang dan kru selamat Sementara sisanya ditemukan dalam keadaan meninggal dan hilang
Handoko Khusumo
Editor : JTV Banyuwangi

















